Pasca Runtuhnya Khilafah…



Dakwah Media - Semenjak Daulah Khilafah Utsmaniyah di hapuskan dari peta perpolitikan dunia dan wilayahnya kemudian di kerat-kerat menjadi puluhan negeri-negeri muslim. Dilanjutkan dengan dicekokinya anak-anak kaum muslimin dengan paham Kebebasan dan Demokrasi. Maka, sejak saat itulah para pejuang-pejuangnya berupaya untuk mewujudkan sebuah perubahan yang mendasar guna mewujudkan kembali penerapan islam secara totalitas di seluruh aspek kehidupan.

3 Maret 1924 adalah saat dimana Sistem Kekhilafahan resmi dibubarkan oleh Mustafa Kamal At-Taturk laknatullah. Pasca itu, yang menerapkan aturan di muka bumi adalah para penguasa yang jahat, sehingga islam-pun lenyap dari kehidupan kaum muslimin. Tak puas sampai disitu saja. Saking tidak ridha-nya mereka jika umat islam berkuasa dan menerapkan islam. Mereka tipu umat islam dengan bualan busuk demokrasi. Mereka belokkan ghiroh ukhuwah persatuan umat ke dalam keranjang demokrasi. Dengan sekedar memenangkan calon muslim saat pemilu tiba. Seolah dengan berjuang memenangkan pasangan muslim pada saat pemilu adalah sebuah jalan yang tepat untuk mewujudkan perubahan umat. Padahal jika kita ingin berbicara kepemimpinan di dalam islam. Maka, kita sedang berbicara tentang dua hal; sosok pemimpin dan sistem kepemimpinan. Memilih pemimpin muslim berarti memilih pemimpin dengan tujuh kriteria; (1) Muslim; (2) Laki-laki, (3) Baligh; (4) Berakal; (5) Adil (tidak fasiq); (6) Merdeka; (7) Mampu, mampu melaksanakan ke-khilafahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW. Dan sistem kepemimpinannya adalah sistem kepemimpinan islam, yang sesuai syariah yang dinamakan Imamah atau Khilafah.
Dakwah Politik

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa, “Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu tanpa pondasi pasti akan runtuh dan sesuatu tanpa penjaga pasti akan hilang”. Dalam hal ini Beliau telah memasukkan negara sebagai bagian dari kemaslahatan vital, dimana keberadaan dan ketiadannnya akan menyebabkan kerusakan dalam kehidupan umat manusia. Negara berfungsi sebagai penjaga agama. Bahkan lebih dari itu, negara juga memiliki fungsi untuk menerapkan, menjaga serta mengemban risalah islam. Sehingga disinilah pentingnya aktivitas dakwah politik, mengemban dakwah islam melalui aktivitas politik. Yang mana didalamnya terdapat aktivitas seperti bermuhasabah dan amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa.
Namun, pada saat sekarang barat beserta antek-anteknya melakukan berbagai macam propaganda yang intinya adalah meminta kita untuk mengingkari ajaran Rasulullah dan memaksa kita untuk rela melacurkan diri ke kubangan politik busuk bernama Demokrasi. Sehingga, yang terjadi adalah seperti sekarang; saat di DKI Jakarta ada sebagian kaum muslimin yang menyatakan haram hukumnya memilih ahok karena dia non muslim. Tapi, di saat yang bersamaan ada di antara parpol yang berbasis islam malah mengusung pasangan calon dari orang-orang non muslim. Tentu ini sangat ironi, bagaimana bisa ini terjadi partai yang mengaku berbasis massa islam malah mencalonkan orang non muslim menjadi paslon dalam pilkada. Apakah mereka tidak paham bagaimana kriteria pemimpin dalam islam? Tidak adakah seorang muslim lagi yang layak mereka calonkan? Atau ada alasan yang lain?

Jelas ada alasan yang lain dibalik itu. Dan alasannya tak lain adalah adanya kepentingan-kepentingan tertentu. Dan inilah yang membuat saudara seiman kita rela berkolaborasi dengan orang-orang non muslim hanya untuk memenangkan sebuah pemilihan kepala daerah. Jujur ini sangat ironis, saat ghirah persatuan sudah memuncak dan seharusnya umat bisa bersatu menyatukan visi-misinya untuk mengangkat pemimpin muslim dan menerapkan Sistem Islam. Malah, di kotori oleh ulah sejumlah parpol berbasis massa islam. Bagaimana bisa kekuasaan menjaga agama lha wong kepala daerahnya saja (andai terpilih) adalah orang non muslim? Beriman dengan islam aja tidak, mana mungkin mereka mau menjaga islam. Menjaga Sholat aja tidak kok mau-maunya umat memintanya menjaga agama islam. Ini penghinaan, penghinaan besar terhadap islam dan kaum muslimin.

Kesadaran Bersama

Patut juga kita mendengarkan nasehat dari imam Al Ghazali, “Sesungguhnya kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasanya, dan kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama, dan kerusakan ulama disebabkan oleh cinta dunia dan kedudukan…”. Sesungguhnya Hizbut Tahrir menyerukan kepada Anda dengan suara lantang, bahwa Anda adalah bagian dari umat yang memiliki vitalitas; umat terbaik yang pernah dilahirkan untuk seluruh umat manusia sejak Rasulullah saw memimpinnya, lalu diteruskan oleh para Khulafa’ ar-Rasyidin, kemudian oleh para khalifah setelahnya. Karena itu, Anda harus segera mengambil langkah untuk mendirikan Khilafah. Khilafah lah satu-satunya yang mampu melenyapkan pengaruh imperialisme dan  kerusakan dari negeri ini. Selain itu, tidak ada lagi jalan keluar bagi umat Islam dari berbagai bala’ yang terus mengikuti demokrasi dan kaum Sekular.

Oleh: Aziz Rohman (Jombang)

0 Response to "Pasca Runtuhnya Khilafah…"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Plis Like Fanpage Kami ya
close