Mahasiswa Terjebak dalam Indiviualisme



Dakwah Media - Pada era milenial saat ini, posisi mahasiswa seharusnya berada pada kunci perubahan sebuah peradaban. Mahasiswa selalu dipandang sebagai sosok yang kritis, intelektual dan peka terhadap probematika yang terjadi jadi di tengah tengah masyarakat. Namun kenyataannya saat ini mahasiswa menjelma menjadi sosok yang apatis dan egois. Bahasa gaulnya ‘suka suka gue’.

Prilaku mahasiswa tersebut tak lepas dari hasil pendidikan sekulerisme yang menjadikan profit sebagai orientasi utama mahasiswa mengenyam kursi pendidikan tinggi. Biaya kuliah yang setiap tahun naik meroket menjadi salah satu alasan mahasiswa di kejar oleh deadline, ‘kuliah tepat waktu’ dan menjadi acuh tak acuh terhadap kejadian di tengah tengah masyarakat. Memang tak ada yang salah untuk mentargetkan kuliah tepat waktu, namun jika karena hal tersebut mahasiswa menjadi dibutakan dan bersifat fatalisme, cenderung diam dengan segala macam kejadian disekitarnya, maka apa fungsi pendidikan yang seharusnya melahirkan orang orang yang terdidik dan kritis?

Mahasiswa kini hanya dibuat melek untuk urusan food, fun, dan fashion. Mulai dari akun social media yang setiap hari menghadirkan postingan berupa tempat kongkow up-to-date, fashion looks, para selebgram hits, dengan jumlah follower ribuan sampai ratusan bahkan jutaan. Yang diikuti dengan postingan foto selfie di iringi caption berupa quotes co-pas dari internet dan tidak lupa imbuhan di belakangnya hashtag ootd.

Ironinya lagi mahasiswa kini tidak mengerti masyarakat sedang mengalami krisis yang sangat memprihatinkan, mulai dari problematika hidup berkaitan dengan krisis Moral, krisis Ekonomi, krisis Sosial, bahkan sampai urusan Politik yang melahirkan kedzaliman. Tapi tidak bisa membuat peka kaum terpelajar yang bernama mahasiswa. Bahkan menjadi hal yang tabu bila dikalangan mahasiswa untuk berbicara tema yang berbau politik.  Seperti misalnya pembahasan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang kini naik hingga 300% pun hampir tak terdengar diantara dinding dinding kampus, bahkan kalah suara dengan harga gincu yang lagi diskon di olshop sebelah. Atau harga gadget keluaran terbaru, yang memprihatinkan justru mereka sering berujar yang dalam bahasa gaulnya ‘itu mah bukan urusan gue’

Mahasiswa kini disibukan oleh hal yang bahkan bukan sama sekali tujuan mereka bersekolah tinggi. Gelar yang disematkan dibelakang nama mereka hanya sekedar imbuhan cantik di CV lamaran kerja. Tumpukan skripsi hanya menjadi pajangan di perputakaan kampus tanpa ada realisasi yang signifikan. Puluhan lembaran kertas tugas, analisis dan diskusi hanya menjadi ide ide yang menguap ketika melangkah keluar ruangan.

Salah satu imbas dari kapitalisme yang sangat dirasakan adalah pergeseran pandangan mahasiswa tentang fungsi pendidikan tingkat tinggi. Hanya untuk sekedar mendapatkan selembar ijazah lalu ditukar dengan posisi enak di sebuah perusahaan milik asing dan aseng dengan berharap profit sebesar besarnya. Karena pada hari ini, dimana terasan hawa pengap kapitalisme sangat pekat, standar masyarakat terhadap arti dari kemapanan hidup adalah sebatas materi saja. Dimana ketika seseorang memiliki Mobil, HP terbaru merek logo buah,  lifestyle yang makan pagi di jakarta makan siang di bali. Itulah yang disebut kemapanan hidup saat ini.

Mahasiswa dengan sifat fatalisme seperti ini tidak akan meraih dan merasakan nikmatnya menimba ilmu dan mengamalkannya, mereka hanya akan menjadi kuli kuli para pemilik modal atau juga jadi koruptor bila jadi pejabat dikemudian hari selepas keluar dari kampus. Mereka akan terjebak dalam individualisme yang tidak berujung.

Lalu, peradaban pun akan macet yang di sumbang sendiri oleh kalangan yang mendapat julukan kaum intelektual tersebut. itulah gambaran mahasiswa dalam peradaban usang kapitalisme. Hal ini yang telah menjerat kaum muda terdidik seperti tumpukan barang. Maka bagi mereka yang mau berfikir kritis serta menyadari hal ini sudah saatnya keluar dari belenggu jeratan-jeratan kapitalisme serta keluar dari arus mainstrem utama yang hanya akan melahirkan kesenangan semu dan matinya daya nalar lalu segera sadar kemudian bangkit mengambil peran perubahan dengan merekonstruksi pemahaman ulang tentang alam semesta, manusia dan kehidupan. Sembari bertanya “ Apakah kita diciptakan untuk membangun dunia yang seperti ini? Dunia penuh timpang, kesenjangan dimana-mana, pendidikan diarahkan untuk memenuhi industri, manusia diciptkan hanya untuk dijadikan seperti robot? Atau kita justru lebih punya tugas yang mulia?

Memahami asas berfikir ini sampai level kritis tertinggi kita akan mendapati bahwa kita adalah mahluk yang lemah dan tidak berdiri sendiri melainkan diciptakan oleh kekuatan yang maha segala-galanya yakni Allah SWT. Maka kesadaran ini lah yang akan membebaskan kita sebagai mahasiswa bisa terbebas dari jeratan individualisme sebab individualisme sejatinya sikap sombong kita yang harus dihilangkan. Maka Islam lah yang akan menjadi jawaban sebagai obat penawar ketika kita mau berfikir ulang dan menata nalar sehat untuk kita kembali pada peran yang hakiki.! Jika kita ingin mengambil peran perubahan!.

Oleh: Bunga Erlita Rosalia,S.KG - Dokter Gigi Muda RSGM UMY & Peneliti di Civilization Analysis Forum (CAF)

0 Response to "Mahasiswa Terjebak dalam Indiviualisme"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Plis Like Fanpage Kami ya
close