Kisah Siti Fadhilah Supari, Pejuang Negara yang Dikriminalisasi



Dakwah Media - Dunia tercengang ketika Siti Fadilah Supari, seorang Srikandi Indonesia memporakpandakan konspirasi dunia perdagangan virus termasuk virus Flu Brung (H5N1) . Bibit virus strain Indonesia diambil gratis dari negara terjangkit virus, termasuk Indonesia oleh WHO.
Oleh WHO kemudian dijadikan bibit penangan virus Flu burung (H5N1) yang kemudian diubah menjadi vaksin bekerja sama dengan pabrik obat di negara negara kaya. Vaksin Flu Burung kemudian dijual kembali ke negara yang terjangkit, termasuk Indonesia dengan harga yang mahal dan terbatas jumahnya. Bagaimana mungkin negara negara kaya yang tidak mempunyai kasus flu burung bisa mempunyai hak eksklusif produksi dan ironinya 10 % pabrik obat negara maju menguasai perdagangan 90 % obat Tamiflu (obat flu burung) itu?

WHO PBB kalang kabut ketika konspirasi dengan pabrik obat di negara negara kaya dunia yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun itu terbongkar..Dengan gagah Siti Fadilah bicara di forum internasional itu meminta bagi hasil atas dikomersialkannya bibit virus..

Beliau menolak penindasan negara negara kaya dan lembaga internasional terhadap negara miskin yang perlu bantuan virus dan memaksa dunia untuk transparan .. Siti Fadilah menuntut ,
Bagi hasil atau benefit sharing berupa uang,yang berupa dana atau bagian dari profit. Negara pengirim virus akan punya hak terhadap virus yang dikirimnya. Indonesia juga akan tahu virus itu dikemanakan. Kalaupun dibuat vaksin mau berapa banyak jumlahnya. Selain itu WHO juga bersedia membantu pembangunan kemampuan di negara-negara WHO lain.

Note :Indonesia sudah mengirim 58 sample bibit virus strain Indonesia.

Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.

Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World toChange.

Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi.

Majalah The Economist London 2005 menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.

“Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi,” tulis The Economist.

Kegigihannya sebagai seorang nasionalis terbukti WHO dengan sangat terpaksa mengubah kebijakannya yang tidak adil itu... Indonesia menang.. sumber kekayaannya terselamatkan..

Di sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan lembaga WHO yang menangani khusus virus yaitu GISN (Global Influenza Surveilance Network ) dihapuskan...

Namun apa yang terjadi sesudahnya ?

Siti Fadilah Supari dicopot dari jabatan Menteri kesehatan, dan dicari cari kesalahannya... bagaimana tidak...???

Banjir bandang di Kuta Cane, Aceh pada tahun 2005 lalu memerlukan penangan segera. Saat itu, ada sekitar 22 orang meninggal, 300 orang harus dirawat di Rumah Sakit, dan sekitar 3000 orang terpaksa mengungsi. Karena takut terjadi wabah, maka diperlukan langkah darurat untuk mengatasi keadaan tersebut.ini masalah nyawa rakyat Inonesia dan rakyat Aceh khususnya.....

Karena RS di Kuta Cane tidak mempunyai perlengkapan standar minimal yang diperlukan dan tidak tersedianya obat-obatan yang memadai, Kepala Pusat Penanggulangan Bencana Departemen Kesehatan melalui Sekretaris Jenderal, waktu itu melalui surat mengusulkan kepada Menteri Kesehatan saat itu, Siti Fadilah Supari untuk menyetujui penunjukan langsung untuk pengadaan peralatan kesehatan dan obat-obatan untuk mengatasi korban banjir.

Siti kemudian meminta kepada Sekjen agar Kepala Biro Keuangan menelaah apakah bisa dilakukan penunjukan langsung atau tidak. Siti lalu mendapatkan rekomendasi bahwa berdasarkan Keputusan Presiden nomor 80 tahun 2003, bisa dilakukan penunjukan langsung.

Salahkah kebijakan beliau ????

Lihatlah beliau sekarang duduk di kursi pesakitan dan dianggap sebagai penjahat negara !!!! tidur di sel penjara pengap...Bajingankah dia ???

Mana suara rakyat Aceh yang sudah dibantu itu ??? adakah satu orang saja yang bersuara membelanya ??? mana orang tua yang dulu menangis memohon bantuan segera dan telah kehilangan separo anggota keluarganya ? Mana teriakan anak anak korban bencana yang dulu pernah terselamatkan karena kebijakan cepat itu ??? mana suara mereka ???

Klopun terjadi kesalahan dalam aspek teknis di lapangan, apakah seorang Menteri harus tau semua kelakuan anak buahnya ??? aku Cuma bisa katakan.. ini biadab...

Internasional mengagumi dia sebagai seorang nasionalis pehlawan pembela negaranya..Berapa duit negara yang sudah diselamatkan olehnya ??? 5 Bilyun Rupiah (perhitungan harga bibit virus dan turunannya x jumlah vaksin yang diproduksi ) ...tapi di negaranya sendiri dia dianggap bajingan pengkhianat negara yang tidak dia nikmati !!!

Padahal bila Siti ingin kaya raya, bukankah Siti tinggal tutup mulut dan terima tawaran untuk tarik buku dari negara produsen vaksin dan lembaga dunia yang tentu pastinya tidak gratis itu khan ??? berapa uang yang mungkin akan dia terima hanya untuk tutup mulut dan pura pura tidak tahu ketidakadilan dan penindasan itu ?? tapi semua tidak Siti lakukan...karena dia cinta Indonesia..

Dia memang tidak punya ormas , dia tidak kaya sehingga tidak punya massa untuk digerakkan menentang kezaliman ini...

Bandingkan dengan seorang pengkhianat negara yang masih banyak berkeliaran saat ini, yang punya masa dan uang.. hitam bisa jadi putih.. putih bisa jadi hitam...karena uang...

Demikian... semoga keadilan untuk Siti bukan hanya utopia di republik ini.. bukan pula demi kepentingan bisnis maka dia harus dibekap di negerinya sendiri...

Note : apakah ada hubungannya kasus ini dengan

1.Siti Fadilah: Vaksin Palsu Adalah Serangan Perang Asimetris
bergelora.com Senin, 18 Juli 2016 Dilihat: 2745

2. Laporan detik com. Sabtu 23 Jul 2016, 14:07 WIB
Ini Alasan Investor China Bangun Pabrik Vaksin Flu Burung di RI
padahal
3. Indonesia melalui Biofarma sanggup produsi vaksin flu burung sendiri ? laporan kontan online . Bio Farma produksi vaksin flu burung .Jumat, 21 Desember 2012 / 07:28 WIB


Sumber : Sabdo Palon

0 Response to "Kisah Siti Fadhilah Supari, Pejuang Negara yang Dikriminalisasi "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Plis Like Fanpage Kami ya
close