APAKAH MERDEKA BERARTI HARUS ANTI JUZ ‘AMMA ?



Dakwah Media - Dalam surat An-Naba (78), Allah SWT mengajak pada keyakinan pada akherat. Apakah kemerdekaan berarti harus memposisikan orang yang mempertanyakan keberadaan akherat sebagai juri utama dasar negara, guru bangsa yang diteladani, dan dengan itu memberi arahan pengaturan negara, termasuk mengatur-ngatur penyeru akherat?

Dalam surat An-Naazi’at (79), Allah SWT memperingatkan agar jangan meniru Fir’aun yang mengingkari hari kebangkitan. Apakah kemerdekaan harus mendiskreditkan pihak yang hanya ingin meniru Nabi Musa, menyerukan seruan Allah secara kaaffah demi kebaikan di hari kebangkitan?
Dalam surat ‘Abasa (80) Allah mengingatkan agar memposisikan orang baik di atas orang kuat. Lalu apakah kemerdekaan berarti menyerahkan nasib negara dan semua struktur di bawahnya tiap beberapa tahun pada pendana pemilu, sungguhpun mereka mengelola berbagai bisnis kemaksiatan skala raksasa dan menyandera negara?

Dalam surat At-Takwir (81) Allah menyerukan bahwa Muhammad s.a.w bukan orang gila dan Al-Qur’an bukan perkataan setan. Lalu mengapa definisi “ekstrem kanan” adalah orang-orang yang menginginkan Islam diterapkan dalam politik dan kenegaraan, setara dengan “ekstrim kiri”, yang menginginkan komunis diterapkan dalam politik dan kenegaraan?

Dalam surat Al-Infithar (82), Allah menegaskan bahwa malaikat mencatat amal manusia. Lalu mengapa umat Islam justru disoroti, diawasi, dan ditertibkan, sementara orang-orang kafir diteladani sekaligus dijadikan konsultan tentang standar baik dan buruk dalam berbagai aspek (Ipoleksosbudhankam)?

Dalam surat Al-Muthaffifin (83), Allah memperingatkan orang-orang yang curang. Lalu apa harus membiarkan kecurangan skala raksasa, dengan pendirian New Singapura di tengah provinsi eksotis penopang ibukota, dengan pelecehannya kepada pemerintahan provinsi itu, dan dengan itu membuat peningkatan nilai properti ribuan kali lipat, dan nantinya akan menjadi negara dalam negara, bahkan akan membawahi negara?

Dalam surat Al-Insyiqaq (84), Allah SWT memperingatkan akan catatan amal manusia. Lalu mengapa mencoba menegakkan aturan Allah SWT secara sepenuhnya, termasuk dalam politik dan kenegaraan, justru dikategorikan sebagai “kejahatan luar biasa”, dan dibuat aturan jahil untuk mengesahkannya?

Dalam surat Al-Buruj (85), Allah menegaskan akan mengazab orang-orang yang menyiksa orang-orang muslim. Lalu apa dalam era kemerdekaan justru umat Islam harus selalu dicurigai akan memenggal leher orang atau melempar api ke banyak orang, sementara negara-negara asing yang berkelakuan setan, membakar dua kota besar dunia, dan membuat puluhan juta manusia menjadi buraian darah dan abu, justru dijadikan sebagai guru dan diikuti petuahnya untuk memburu orang-orang muslim?

Dalam surat Ath-Thariq (86), Allah menegaskan bahwa Ia lebih bisa membuat makar dibanding orang-orang kafir. Lalu apakan merdeka berarti menyerahkan nasib bangsa sendiri pada orang-orang kafir dengan hutang yang mereka berikan, investasi yang mereka guyurkan, dan perusahaan yang mereka tebarkan?

Dalam surat Al-A’laa (87), Allah SWT memperingatkan agar sibuk memberikan peringatan, karena peringatan itu bermanfaat. Lalu apakah kemerdekaan berarti sibuk memperingatkan para pendakwah yang sibuk memberikan peringatan?

Dalam surat Al-Ghasiyah (88), Allah SWT memperingatkan orang-orang yang berpaling dari peringatan Allah SWT. Lalu apakah merdeka justru mengikuti orang-orang yang berpaling, merasa khawatir kalau kebijakan yang dibuat tidak mendapat dukungan mereka, seakan mereka adalah pihak yang besar, kuat, dan kekal?

Dalam surat Al-Fajr (89), Allah SWT memperingatkan tentang betapa rapuhnya pasak-pasak Fir’aun, adikuasa di zamannya. Lalu apakah kemerdekaan berarti harus duduk bersimpuh kepada negara adikuasa, sungguhpun hukum besi peradaban selalu menunjukkan bahwa negara-negara adikuasa senantiasa runtuh saat tampak gemerlap?

Dalam surat Al-Balad (90) Allah SWT mengingatkan agar manusia tidak menjadikan harta sebagai penyangga hidup mereka. Lalu apakah kemerdekaan berarti dana luar negeri masuk besar-besaran, walau bentuknya utang yang pasti bunganya tapi tidak pasti untungnya, atau investasi asing yang penerapannya menyandera kebijakan negara, atau perusahaan asing memback up BUMN yang karyawannya disuruh hormat bendera, tapi pemegang sahamnya bisa menendang bendera seenaknya?
Dalam surat As-Syams (91) Allah SWT mengingatkan tentang kaum Tsamud yang berani menyembelih unta pemberian Allah. Lalu apakah merdeka berarti berani membabat penerapan sebagian hukum Allah?

Dalam surat Al-Lail (92) Allah SWT menyanjung pengorbanan dan mencela kekikiran. Apakah merdeka berarti menjadikan kekikiran sebagai senjata dan dengan kapital yang dikumpulkan itu bisa memberikan utang kepada banyak pihak untuk unjuk kekuatan dan menguasai orang-orang yang lebih lemah?

Dalam surat Adh-Dhuha (93) Allah memperingatkan agar berlaku lembut kepada orang yang kekurangan. Apakah merdeka berarti memperlakukan mereka sebagai kaum yang malas dan memuji orang yang kaya raya sebagai kaum yang produktif, yang diidolakan dan diteladani, tak perduli bahwa kemiskinan yang terjadi karena struktur ekonomi yang menguntungkan sebagian tapi memarginalkan sebagian yang lain?

Dalam surat Asy-Syarh (94) Allah menekankan bahwa setelah kesulitan ada kemudahan, karena Ia menolong hamba-Nya. Lalu apakah merdeka berarti tak perlu optimis dengan segala solusi yang diberikan Allah?

Dalam surat At-Tin (95) Allah menekankan bahwa Ia-lah hakim yang paling adil. Lalu apakah merdeka berarti harus khawatir jika aturan dari Yang Maha Adil itu tidak bisa menyelamatkan negara dan rakyatnya, bahkan memecah belahnya menjadi berkeping-keping dan menjerumuskannya dalam ketidakmodernan dan kemunduran?

Dalam surat Al-‘Alaq (96) Allah mempertanyakan sikap orang-orang yang melarang menjalankan kebenaran. Lalu apakah merdeka berarti harus meminta-minta kepada kaum yang mengganggu umat Islam menjalankan agamanya ?
….
….
.....
......
Dalam surat Al-Ikhlas (112), Al-‘Alaq (113), dan An-Naas (114), Allah SWT menekankan agar beriman kepada-Nya dengan segala kemahakuasaan-Nya dan kesanggupan-Nya melindungi makhluk-Nya. Lalu apakah merdeka berarti tak merasa tersentuh dengan semua itu dan tersadarkan untuk berlindung kepada-Nya; sebaliknya lebih memilih berlindung kepada pihak yang Ia murkai. [fb]

oleh: Husein Matla

0 Response to "APAKAH MERDEKA BERARTI HARUS ANTI JUZ ‘AMMA ?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Plis Like Fanpage Kami ya
close