KOPI POLITIK NASRUDIN JOHA: MAINSTREAM POLITIK SUDAH BERGESER BUNG!



Dakwah Media - Subuh-subuh Abu Nawas telah bertandang ke Bukit Nasjo. Disanalah, tersebut seorang Sufi Politik Nasrudin Joha tinggal, hari demi hari menghabiskan waktu bersama keluarganya.

Laiknya hari-hari yang telah berlalu, selalu saja diruang tamu pada emperan lesehan rumah terhidang satu toples jumbo dengan isian kudapan khas, apa lagi kalau bukan kerupuk Slondok.

Selang beberapa detik, munculah hidangan kopi kapal api nikmat sebagai pelengkapnya. Abu Nawas segera saja menyeruput kopi kapal api nikmat itu dengan suara khasnya..."Sruput......ah, pyar segar!".

"Hai, Abu Nawas. Ada tiga hal yang harus kau ketahui tentang kopi itu", sergah Nasrudin.

"Apa itu wahai Syaikh..." Jawab Abu Nawas.

"Pertama, engkau merasakan betapa nikmatnya minum kopi jika engkau merasa sulit untuk membelinya. Ketahuilah, sesungguhnya kopi yang kau minum itu ada pada deret angka 19, dari total bon keluarga kami di Warung belakang.."

"Kedua, engkau akan merasakan nikmatnya minum kopi jika disandingkan dengan kudapan kerupuk selondok. Ketahuilah, dihadapanmu ada toples berisi kerupuk selondok. Kabar baiknya, selondok itu tidak termasuk dalam daftar bon Warung, tetapi pemberian mertuaku".

"Ketiga, kenikmatan minum kopi itu jika engkau meminumnya sambil berdiskusi politik membincangkan urusan umat, urusan negeri ini, urusan bagaimana pemimpin mengurusi rakyatnya. Aku harap, kedatanganmu untuk melengkapi kenikmatan kita menyeruput kopi ini..."

Abu Nawas segera menanggapinya.

"Pertama, ya syaikh..hamba turut prihatin atas catatan bon itu. Sungguh pun demikian, hamba tidak akan lancang untuk melunasinya, karena pastilah itu akan mengurangi kenikmatan kita menyeruput kopi kapal api ini."

"Kedua, sungguh setiap hamba berkunjung hamba tidak cukup berharap dihidangkan kopi kapal api, tetapi hamba juga berharap sangat ada kerupuk selondok menyertainya. Alhamdulillah, sepanjang hamba mengenal Syaikh, nyaris tidak pernah hamba menemui kopi kapal api dalam keadaan menyendiri. Selalu saja kerupuk selondok hadir menemani."

"Ketiga, tentu saja saya datang kesini untuk berbincang tentang politik. Saya terus terang tidak akan diskusi emak-emak, gosip pedagang sayur, yang berulang-ulang bicara tentang senjata ilegal. Yang satu sebut memiliki izin, yang lain membantah belum berizin. Yang satu sebut untuk narkoba, yang lain sebut untuk atur lalu lintas, ada juga disebut untuk mengintai rakyat. Ah..gosip murahan emak-emak beginian, tidak layak kita diskusikan. Bahkan, yang mengeluarkan pernyataan juga tukang gosip semua".

Nasrudin Joha sambil Terdiam terus mengamati penuturan Abu Nawas. Dia mengakui, perlahan terlihat secercah cahaya kepintaran Abu Nawas. Perlahan, kabut kebodohan itu mulai tersingkap dari wajahnya. Alhamdulillah, guman Nasrudin Joha.

"Lantas apa yang hendak kau diskusikan wahai Abu Nawas?" Tanya Nasrudin.

"Begini Syaikh...hari ini umat disibukan dengan diskursus politik 2019. Ada yang menyebut kans tiga kandidat calon. Joko, Gatot dan Bowo."

"Bahkan ulasan tentang peluang dan kelemahan Joko, Gatot dan Bowo banyak beredar di jagat medsos".

"Menurut Anda, adakah kacamata politik yang lain untuk menilai ini ?". Tanya Abu Nawas

Pelan-pelan Nasrudin Joha mulai bertutur. Terlihat dahinya berkerenyut, mulailah ia menyilangkan kakinya duduk bersila agar lebih nyaman untuk berdiskusi.

"Para pengamat, termasuk praktisi politik, tokoh partai, bahkan ada banyak kalangan yang selalu melihat dinamika politik khususnya suksesi politik (baca: suksesi kepemimpinan) hanya pada ritual mainstream. Pada siklus 5 (lima) tahunan. Hanya pada ajang Pemilu dan Pilpres.

Padahal, semua ilmuan politik mengetahui perubahan politik tidak saja berlaku pada jalur linear. Tidak saja melalui proses pemilu, Pilpres atau Pilkada.

Perubahan politik dalam cakupan luas dan memberi dampak politik yang besar, justru keluar dari pakem LINEAR.

Sebut saja peristiwa reformasi, peristiwa 1966 saat pemberontakan PKI, saat 1948, bahkan merdekanya negeri ini juga diluar pakem siklus lima tahunan.

Agar kacamata politik kita tidak menjadi kacamata kuda, agar tempurung politik tidak membuat kita menjadi katak, coba tengok juga dunia luar.

Restorasi Meiji itu terjadi bukan dalam bingkai siklus LINEAR. Bersatunya Jerman barat dan timur, runtuhnya Uni Soviet, bersatunya masyarakat Eropa, munculnya adidaya Amerika menggantikan imperium Inggris, kesemuanya terjadi diluar siklus LINEAR lima tahunan.

Proses perubahan revolusioner lebih memberikan dampak luas dan sistemik. Hanya saja, ada revolusi yang dibangun berdasarkan Dialektika materialisme sebagaimana terjadi saat penubuhan Soviet. Lahir dengan korban dan darah.

Ada juga revolusi kudeta yang telah menjadi tradisi politik di Thailand. Militer Thailand, telah menorehkan preseden peralihan kekuasaan diluar  siklus LINEAR lima tahunan.

Tetapi juga ada revolusi pemikiran dan politik yang diusung melalui jalan dakwah. Rasulullah SAW telah menorehkan gerakan revolusi damai, dengan pemikiran politik, melalui jalan dakwah sampai penumbuhan Daulah Islam yang pertama kali di Madinah.

Kemudian Daulah Islam itu berkembang menjadi kekhalifahan Islam yang menguasai 2/3 dunia, eksis hampir 13 abad lamanya.

Apakah revolusi damai yang ditegakan Rasulullah SAW yang puncaknya meneguhkan beliau selaku pemimpin spiritual sekaligus pemimpin politik di Madinah melalui model LINEAR siklus lima tahunan?

Kembali ke isu politik 2019. Memang jika kita menggunakan kacamata mainstream, kacamata kuda, tidak salah jika kontestasi politik disimpulkan tidak akan keluar dari simpul Joko, Gatot atau Bowo.

Tetapi nampaknya data yang diusung juga dibatasi pada data politik mainstream untuk membenarkan kesimpulan tersebut.

Baiklah, coba buka diri kita dengan melongok persepsi diluar mainstream dan memelototi data diluar data LINEAR.

Jika kita perhatikan aksi bela Islam baik pada aksi 412, 212 hingga 299, terlihat jelas realitas politik baru yang sungguh menggentarkan. Realitas politik yang tidak pernah muncul pada era politik sebelumnya.

Pertama, Ada aspirasi politik yang disuarakan berdasarkan preferensi keagamaan. Dalam hal ini Islam. Ada kesatuan pandangan politik, meski sebagiannya baru dibangun berdasarkan sentimien perasaan keislaman, tetapi ini akan alamiah meningkat menjadi satu kesadaran politik yang dibangun berdasarkan pemikiran dan akidah Islam.

Kedua, Ada aktualisasi simbol yang mengalkulturasi semangat keislaman, aktualisasi akidah Islam. Fenomena maraknya bendera Rasulullah (al Liwa dan Ar Roya) yang diusung peserta aksi mengkonfirmasi hal ini.

Ketiga, ada kejengahan dan kekesalan super akut pada rezim penguasa dan sistem eksisting. Faktanya, penguasa selalu berseberangan dengan aspirasi umat Islam. Pada saat yang sama, kebijakan Dzalim yang dipertontonkan penguasa selalu berdalih "penegakan hukum" yang berbasis pada legitimasi sistem sekuler yang ada menjadikan umat berfikir "ini buka soal Joko, tidak akan selesai diganti Gatot atau Bowo" tetapi ini soal sistem, aturan main, hukum yang diterapkan.

Meskipun gonta ganti pemimpin, jika sistem yang eksis tetap bercokol, mustahil umat akan mendapatkan pelayanan penguasa apalagi mendapat keadilan dari sistem sekuler.

Pada saat semua pintu, jendela dan lobang-lobang aspirasi rakyat dikunci dan ditutup rapat, kemudian penguasa menawarkan pintu aspirasi "pemilu dan Pilpres di tahun 2019", maka umat akan berfikir ini sekedar jebakan politik.

Umat bisa saja mengambil pilihan dengan menghukum penguasa yang berkontestasi, dengan tidak ikut pemilu atau Pilpres, bahkan menyerukan kepada publik untuk tidak ikut dalam pemilu maupun Pilpres di 2019 karena apapun hasilnya umat tetap akan terdzalimi.

Terlebih, didalam UU pemilu yang lama atau yang baru saja di sahkan DPR (UU No. 7/2017), tidak ada satupun pasal yang bisa mempidanakan seseorang yang menyeru atau mengajak masyarakat untuk tidak memilih di pemilu dan Pilpres 2019.

Jika ini terjadi, dan hasil pemilu dan Pilpres 2019 hanya diikuti katakanlah 20 persen saja dari jumlah Daftar Pemilih yang ada, maka ini bencana besar bagi sistem dan rezim. Saat itu, bisa terjadi revolusi kepemimpinan yang luar biasa, bisa saja di 2019 tidak sekedar terjadi perubahan kepemimpinan, tetapi sistem sekuler yang ada bisa juga berubah dan terjadilah penubuhan sistem yang baru.

Dalam hal ini, tentu saja sistem Islam dan kepemimpinan Islam dalam sistem Khilafah berpeluang besar menubuhkan diri dan tegak di negeri ini..."

"Jadi kesimpulan akhirnya tidak harus pada personifikasi politik ke Joko, Gatot atau Bowo. Tetapi bisa berujung revolusi damai dengan jalan dakwah pemikiran dan politik...."

"Paham kan Abu Nawas ?"

Nasrudin Joha asyik dengan paparannya, tanpa memperhatikan keadaan abu Nawas. Tanpa disadari, ternyata Abu Nawas tertidur. Kagak ngaruh juga di kopiin anak satu ini!. [].

0 Response to "KOPI POLITIK NASRUDIN JOHA: MAINSTREAM POLITIK SUDAH BERGESER BUNG!"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Plis Like Fanpage Kami ya
close