Kisah An-Nadhar Ibnul Harits dan Tiga Pertanyaan

 
Dia termasuk salah seorang yang menentang dakwah Islam pada awal kemunculannya dan yang mengahalangi para pengikutnya. Namanya dikenal sebagai an-Nadhar Ibnul Harits, salah seorang tokoh golongan kaum kaya Quraisy yang memegang kekuasaan di Kota Makkah. Dia memanfaatkan kekayaan dan kedudukannya untuk menindas para pengikut Nabi Muhammad.


Sepulangnya dari Persia untuk belajar kepada beberapa juru dongeng di kerajaan, di antaranya Rustam dan Isfandiar, an-Nadhar merasa terancam atas kehadiran Rasulullah. Di Makkah, dia melihat Rasulullah yang telah mengaku diutus Tuhan itu membacakan ayat-ayat Alquran yang menarik hati sebagian warga. Jika Rasulullah berdakwah di suatu majelis menceritakan berita tentang orang terdahulu, an-Nadhar akan berkata, “Demi Allah, siapakah juru kisah yang paling bagus? Aku atau Muhammad?”
An-Nadhar dan kaum Quraisy lainnya kaget mengetahui dakwah Rasulullah yang semakin menyebar. Beberapa kabilah Arab sudah menjauhi berhalanya setelah didatangi Muhammad. Mereka kemudian menawarkan kedudukan dan harta berlimpah dengan syarat Rasulullah harus berdakwah dengan menghina tuhan-tuhan mereka dan mencerai-beraikan kesatuan kaum Quraisy. Tapi, Rasulullah menolaknya.
Sadar akan kegagalan tersebut, pemuka Quraisy kembali berkumpul mencari jalan lain untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad. An-Nadhar berkata di hadapan para kaum Quraisy, seperti yang dikisahkan dalam sirah Ibnu Hisyam.
“Hai kaum Quraisy, demi Allah kalian benar-benar ditimpa suatu persoalan yang belum dapat kalian pecahkan. Dahulu, Muhammad hidup di tengah-tengah kalian sebagai seorang anak yang paling kalian senangi, yang paling berkata jujur, dan yang paling dipercaya. Tatkala kalian melihat tanda-tanda kedewasaan di antara kedua pipinya dan membawa agama baru kepada kalian, lalu kalian berkata, dia tukang sihir. Demi Allah, dia bukan tukang sihir. Aku pernah melihat para tukang sihir, tiupan-tiupan mereka, dan buhul-buhulnya,” ujar an-Nadhar.

Dia melanjutkan pidatonya dengan kebencian yang jelas akan agama baru itu. “Kalian juga berkata, dia adalah dukun. Demi Allah, dia bukan dukun. Aku pernah melihat para dukun dan perilakunya. Serta, kami juga mendengar jampi-jampinya,” katanya. “Kalian juga mengatakan, dia adalah seorang penyair. Demi Allah, dia bukan seorag penyair. Kami telah melihat syair dan mendengar seluruh jenisnya, baik yang bermetrum hajaj maupun rujaz,” tuturnya.

“Kalian mengatakan bahwa dia itu orang gila. Demi Allah, dia bukan orang gila. Kita pernah melihat orang gila, perilakunya, racauannya, dan ketidakwarasannya. Hai Kaum Quraisy, renungkanlah persoalanmu. Demi Allah, kalian benar-benar mengalami persoalan yang besar,” tandas an-Nadhar.
Setelah berkata demikian, kaum Quraisy mengutus an-Nadhar bersama Uqbah Bin Abi Mu'ith supaya menemui para pendeta Yahudi di Madinah. Tujuannya, untuk mendapatkan informasi dari para pendeta Yahudi mengenai sejarah nabi dan kaum terdahulu untuk mengonfirmasi kebenaran yang disampaikan oleh Muhammad sekaligus untuk mengetahui pendapat mereka terhadap Muhammad. Berangkatlah an-Nadhar dan Uqbah ke Madinah dengan bergegas karena ingin segera mendapatkan informasi dari para pendeta atau penjelasan tentang apa yang dibawa oleh Muhammad.
Setelah tiba di perkampungan Yahudi, keduanya menjelaskan keberadaan Muhammad kepada para pendeta. Mereka menerangkan ciri-cirinya, menginformasikan sebagian perkataannya, serta menggambarkan kehidupannya. Para pendeta Yahudi pun berkata.
“Tanyakanlah kepadanya tentang tiga hal. Jika dia dapat menjawabnya, berarti dia seorang nabi yang diutus. Jika tidak menjawab, berarti dia hanya seorang yang mengada-ada dan mereka-reka sesuatu untuk akalmu,” kata para rabi Yahudi itu.
Pertanyaan pertama mengenai apa yang dialami oleh sekelompok pemuda yang pergi pada zaman dahulu dan memiliki kisah yang menakjubkan. Lalu, kaum Quraisy Makkah juga diminta untuk menanyakan kepada Muhammad tentang seseorang yang telah berkeliling dunia hingga mencapai belahan timur dan barat. “Serta, tanyakanlah padanya tentang ruh. Apakah ruh itu?''

Para pendeta Yahudi pun mengingatkan kepada kedua bangsawan Quraisy itu, “Jika dia mampu menjawab ketiga pertanyaan itu, ikutilah dia. Sebab, dia adalah seorang Nabi. Jika tidak, berarti orang itu hanya mengada-ada dan tindaklah dia sesuai dengan apa yang terpikir olehmu,” kata mereka. An-Nadhar dan Uqbah pun pulang.

An-Nadhar lalu memanggil para pemuka Quraisy dan menceritakan apa yang dikatakan oleh para pendeta Yahudi. Kemudian, an-Nadhar dan para pemuka Quraisy pun pergi menemui Rasulullah dan menanyakan ketiga pertanyaan tersebut. Tapi, Rasulullah hanya menjawab. “Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok,” tuturnya.
Ternyata, sampai hari ke-15 Allah tak kunjung menurunkan wahyu dan Jibril tidak menemui Nabi untuk memberi jawaban atas tiga pertanyaan yang diajukan pemuka Quraisy. Atas ketidakmampuan Nabi memberi jawaban itu, petinggi Quraisy pun merasa menang.
“Muhammad berjanji esok hari. Sekarang, kita berada di pagi hari kelima belas. Namun, dia tidak kunjung menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya,” teriak mereka.
Rasulullah pun risau. Akhirnya, datanglah Jibril membawa jawaban yang ditunggu-tunggu itu, yaitu surah al-Kahfi. Surah ini, di antaranya, menegur Rasulullah karena kesedihannya dalam menghadapi Kaum Quraisy, berita tentang sekelompok pemuda yang dikenal dengan para pemuda gua (ashabul kahfi), tentang seorang laki-laki bernama Zulqarnayn yang berkeliling dunia, dan tentang ruh.


An-Nadhar lalu memanggil para pemuka Quraisy dan menceritakan apa yang dikatakan oleh para pendeta Yahudi. Kemudian, an-Nadhar dan para pemuka Quraisy pun pergi menemui Rasulullah dan menanyakan ketiga pertanyaan tersebut. Tapi, Rasulullah hanya menjawab. “Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok,” tuturnya.
Ternyata, sampai hari ke-15 Allah tak kunjung menurunkan wahyu dan Jibril tidak menemui Nabi untuk memberi jawaban atas tiga pertanyaan yang diajukan pemuka Quraisy. Atas ketidakmampuan Nabi memberi jawaban itu, petinggi Quraisy pun merasa menang.
“Muhammad berjanji esok hari. Sekarang, kita berada di pagi hari kelima belas. Namun, dia tidak kunjung menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya,” teriak mereka.

Rasulullah pun risau. Akhirnya, datanglah Jibril membawa jawaban yang ditunggu-tunggu itu, yaitu surah al-Kahfi. Surah ini, di antaranya, menegur Rasulullah karena kesedihannya dalam menghadapi Kaum Quraisy, berita tentang sekelompok pemuda yang dikenal dengan para pemuda gua (ashabul kahfi), tentang seorang laki-laki bernama Zulqarnayn yang berkeliling dunia, dan tentang ruh.

Namun, setelah mendengarkan jawaban Nabi Muhammad, para pemuka Quraisy tetap mengingkarinya. Mereka juga tidak menjalankan pesan pendeta Yahudi untuk mengikuti ajaran baru itu bila Rasulullah mampu menjawab tiga pertanyaan tersebut. Turunnya surah al-Kahfi untuk memberi tiga jawaban itu juga diikuti turunnya ayat ke-23 yang merupakan teguran kepada Nabi. “Dan jangan sekali-kali kami mengatakan terhadap sesuatu, sesungguhnya aku akan mengerjakan itu esok pagi, kecuali dengan menyebut Insya Allah.”
Pemuka Quraisy kehabisan akal untuk mematahkan argumen mengenai kenabian Muhammad. Tiga pertanyaan penting mengenai kaum terdahulu dari para pendeta Yahudi berhasil dijawab Rasulullah dengan benar, walau terlambat 14 hari. Karena itu, tiada jalan lain untuk menghentikan aktivitas dakwah Rasulullah, selain dengan kekerasan. 

Para pemuka Quraisy pun memikirkan rencana jahat lain untuk menghancurkan Rasulullah. Mereka berkumpul di Darun Nadwah untuk bermusyawarah. An-Nadhar membuka forum dengan mengatakan: ''Persoalan orang ini telah kalian rasakan. Demi Allah , kita tidak aman dari serangannya melalui para pengikutnya. Karena itu, satukanlah pandangan dalam menghadapinya.''
Pemuka Quraisy kemudian memilih seorang dari setiap kabilah, yaitu pemuda yang kuat, gagah, dan cakap. Kemudian masing-masing pemuda, diberi sebilah pedang. Mereka diinstruksikan untuk menyerang Rasulullah. Namun, rencana itu gagal. Rasulullah dapat menyelinap menghindari para pemuda yang mengepung rumahnya, lalu beliau berhijrah ke Yatsrib, kota kaum Anshar.

Kegagalan tersebut dijawab Kaum Quraisy kembali dengan rencana jahat lainnya. Mereka tidak hanya mengusir Nabi dari kampung halamannya serta menyiksa penduduknya dan para pengikutnya. Mereka bahkan menyiapkan pasukan yang kuat untuk menghancurkan Rasulullah dan para pengikutnya. Tiga panji Kaum Quraisy dibawa oleh tiga orang dari Bani Abdud Dar, yaitu An-Nadhar, Aziz Ibnu Umair, dan Thalhah Ibnu Abi Thalhah.

Meletuslah perang Badar. Dalam perang pertama antara kaum Muslim dan kaum Quraisy Makkah itu, kekalahan menimpa orang-orang Makkah. An Nadhar berhasil pun ditawan oleh Al-Miqdad Ibnul Aswad. Rasulullah berkomentar mengenai nasib an-Nadhar. ''Dia pernah mengatakan tentang kitab Allah dengan ungkapan yang sama-sama telah kita ketahui,'' kata Nabi. 

Kisah An-Nadhar ini diabadaikan Allah dalam Al-Quran. Setidaknya 10 ayat yang berkaitan dengan An-Nadhar diturunkan. Di antaranya adalah surah Al-Furqaan ayat 5. ''Dan mereka  berkata dongengan-dongenangan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.''
Penolakan an-Nadhar terhadap ajaran Islam juga diungkap dalam surah An-Anfaal ayat 31-32. ''Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami, mereka berkata, sesungguhnya kami telah mendengat ayat-ayat seperti ini. Kalau kamu menghendaki, niscaya kami dapat membacakan yang seoerti ini. Ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala. Dan ingatlah ketika mereka berkata, ya Allah, jika betul Alquran ini, dialah yang benar dari sisi engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit dan datangkanlah kepada kami azab yang pedih.'' Dalam perang Badar itulah doa an-Nadhar akan turunnya azab itu terjawab. Dia mati terbunuh.(ROL)

0 Response to "Kisah An-Nadhar Ibnul Harits dan Tiga Pertanyaan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Plis Like Fanpage Kami ya
close