TEKA-TEKI KARDUS DAN CAWAPRES SANG JENDERAL


Cuitan Andi Arief di linimasa Twitter pada 8 Agustus 2018 pukul 07.29 pagi itu lah yang jadi sumber segala desas-desus ini. Andi, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, menulis, “Prabowo ternyata kardus, malam ini kami menolak kedatangannya ke Kuningan. Bahkan keinginan dia menjelaakan lewat surat sudah tak perlu lagi. Prabowo lebih menghatgai uang ketimbang perjuangan. Jendral kardus.”
Entah barangkali karena tergesa-gesa ingin mencuit di akunnya, ada dua kata yang salah diketik oleh Andi. Hari-hari itu memang saat-saat yang menentukan bagi koalisi partai pendukung Letnan Jenderal (purnawirawan) Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden pada 2019 nanti. Ditunggu sekian lama, meski kasak-kusuk makin santer terdengar, Prabowo belum juga memilih siapa pasangannya untuk maju dalam Pilpres.
Partai Demokrat, satu dari empat partai penyokong Prabowo, menyorongkan nama Agus Harimurti Yudhoyono. Rupanya, bukan kabar baik yang diterima Kuningan, kediaman Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Umum Partai Demokrat sekaligus ayahanda Agus. Beberapa jam setelah cuitan Andi, jelas sudah, Prabowo tak memilih AHY, sebutan akrab Agus. Di detik-detik terakhir, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga S. Uno, ‘menyalip di tikungan’ dan dipilih Prabowo sebagai Calon Wakil Presiden.
Cuitan Andi dan terpilihnya Sandi segera saja jadi ‘bahan bakar’ gosip politik. Sandi bukan saja baru beberapa bulan berkantor di Balaikota Jakarta, tapi dia juga satu partai dengan Prabowo. Sandi saat itu duduk sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Padahal, untuk mendapat tiket calon Presiden, Prabowo harus menggalang koalisi dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Demokrat (PD). Hingga menit terakhir, partai-partai koalisi Prabowo masih berebutan untuk menyodorkan kadernya menjadi pendamping Sang Jenderal.
Alhasil terpilihnya Sandi sebagai cawapres tentu saja membuat kecewa sejumlah pihak. Bahkan Andi Arief terang-terangan menuding ada ‘politik transaksional’ di balik penetapan Sandi sebagai pendamping Prabowo. Kembali lewat cuitan di Twitter pada 10 Agustus, sehari setelah Prabowo memilih Sandi, Andi menembakkan peluru, “Soal Mahar 500 M masing2 pada PAN dan PKS itu yang mwmbuat malam itu saya mentuit jendral kardus. Besar harapan saya dan partai Demokrat Prabowo mwmilih Cawapres lain agar niat baik tidak rusak.” Seperti halnya dalam cuitan pertama, Andi juga membuat beberapa salah ketik.
Desas-desus soal uang ‘mahar’ ini terus menggelinding. Namun sayang, sampai detik ini tudingan adanya ‘sesuatu’ di balik penetapan Sandiaga sebagai cawpres tetap jadi misteri. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sudah memanggil Andi Arief untuk dimintai klarifikasi namun dia tidak pernah datang. Hingga akhirnya, Bawaslu menyimpulkan dugaan pemberian uang ‘mahar’ kepada PAN dan PKS tak bisa dibuktikan.
'Soal Mahar 500 M masing2 pada PAN dan PKS itu yang mwmbuat malam itu saya mentuit jendral kardus'
Faransyah Jaya, Ketua Perkumpulan Gerakan OK OCE (PGO), saat diwawancara detikX, beberapa pekan lalu mengatakan, dia sempat bertanya kepada Sandi saat isu kardus itu merebak. Kepada Faransyah, Sandi mengakui, sebelum deklarasi parpol koalisi pendukung pasangan Prabowo-Sandiaga, PAN dan PKS sempat bertanya ke Sandi soal kesiapannya sebagai cawapres.
“’Emang sanggup mendanai?’ Bang Sandi menyanggupi, ‘Iya lah, saya sebagai calon Wapres siap mendanai’,” Faransyah menirukan cerita Sandiaga. Dalam perbincangan itu, bahkan menurut cerita Sandiaga kepada Faransyah, sempat muncul angka. “’Nilainya seginian nihemang ada duitnya?’....Dan jawaban beliau, ‘Saya sanggup.’”
Namun kesanggupan Sandiaga itu, kata Faransyah, mungkin membuat orang salah sangka. Padahal kesanggupan itu hanya komitmen saja dan belum ada duit yang mengalir ke partai-partai koalisi pendukung Prabowo-Sandi. “Wong jual sahamnya juga baru sekarang...hahaha. Tapi itu buat biaya operasional kampanye aja,” ujar Faransyah.
Sebagai pengusaha salah satu pemilik saham Saratoga Investama Sedaya, perusahaan besar yang punya anak usaha di mana-mana, Sandiaga memang sangat tajir. Namun kabarnya, selama kampanye dia justru terlihat irit. Dalam sejumlah kunjungan ke sejumlah daerah, para calon anggota legislatif dari partai koalisi yang malah banyak merogoh kantong.
Paling tidak itu lah pengakuan Andre Rosiade, calon anggota DPR RI dari Partai Gerindra untuk daerah pemilihan Sumatera Barat 1. Selain mengkampanyekan programnya untuk masuk ke Senayan, Andre mengaku juga mengkampanyekan Prabowo-Sandi lewatt alat peraga mulai dari kaos, stiker, sampai baliho. “Praktis semua kampanye itu yang bayar gua sendiri. Misalnya Sandi datang ke Padang, dia modal tiket pesawat doang, tapi akomodasi di lapangan gua sendiri,” kata Andre kepada detikX.
Sandiaga memang tak hanya modal muda dan ganteng. Berdasar kabar pemberitahuan kepada otoritas bursa saham Indonesia, diketahui Sandiaga sudah beberapa kali menjual sebagian sahamnya di Saratoga. Pada awal Oktober 2018, dia melepas sebanyak 51.400.000 lembar saham senilai Rp 194,08 miliar. Secara bertahap, dia terus menjual sebagian saham miliknya di perusahaan yang dia dirikan bersama Edwin Soeryadjaya itu. Sepanjang Oktober hingga pertengahan Desember 2018, Sandiaga tercatat sebelas kali menjual sahamnya di Saratoga senilai kurang lebih Rp 530 miliar.
Uang yang terkumpul diduga untuk persiapan kampanye selama 100 hari ke depan yakni sampai pencoblosan, 17 April 2019. “ Untuk Januari-Februari mungkin ya. Apalagi Maret akan banyak kampanye akbar. Selama ini kan buat logistik kalau kata Bang Sandi masih Pahe (paket hemat). Nanti di bulan Januari pengeluarannya sepertinya akan besar,” ujar Bendahara Umum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Thomas Djiwandono.
Lantas bagaimana dengan janji uang logistik yang konon dijanjikan Sandi kepada partai-partai koalisi sebelum deklarasi, atau seperti istilah Andi Arief, uang mahar alias uang kardus? Thomas Djiwandono langsung mengelak. Dia menyarankan agar menanyakan langsung kepada Andi Arief sebagai orang yang pertama kali melontarkan isu adanya transaksi di balik penetapan Sandiaga sebagai cawapres Prabowo.(Detik)

0 Response to "TEKA-TEKI KARDUS DAN CAWAPRES SANG JENDERAL"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Plis Like Fanpage Kami ya
close