Ketika Seorang Sahabat, Menjadi Musuh!



Dakwah Media -Terheran kah kamu, bila ada orang yang hafidz Quran, jasanya besar bagi tersebarnya para penghafal Quran, kemudian tiba-tiba kamu ketahui ia berada dalam satu grup barisan yang menistakan agama dan mengkriminalisasi para alim dan aktivis?

14 Abad Silam, Ketika nabi duduk bersama dengan para sahabat-sahabat tercintanya. Ketika itu Nabi memulai dengan melafadzkan ucapan,
"Sesungguhnya, di antara kalian ada seseorang laki-laki yang kelak gigi gerahamnya di neraka lebih besar dari Gunung Uhud."

Suasana itu berubah seketika, menjadi kekhawatiran. Kecemasan melanda semua sahabat, tak terkecuali di sana ada Abu Hurairah ra. yang diberikan kelebihan mudah mengingat termasuk ucapan Nabi SAW.

Hurairah ra cemas, tak bisa tidur. Ia khawatir, yang dimaksud Nabi SAW adalah beliau. Juga dirasakan sebagian sahabat yang lainnya yang hadir kala itu. Maka untuk melawan perasaan takut dan cemas itu, para sahabat yang hadir pada majelis itu senantiasa berbondong-bondong untuk berjuang bersama Nabi SAW.

Sampai satu persatu sahabat itu wafat di Jalan Allah, Syahid di medan jihad yang penuh kemuliaan. Mereka seakan-akan membuktikan bahwa hadits itu bukan untuk mereka. Hingga Nabi SAW wafat, maka tertinggal dua nama sahabat yang ikut hadir majelis kala itu.

Kala itu, dari Belahan wilayah lainnya, muncul nama beken, Musailamah Al-Kadzab. Al-Kadzab sebagai sindiran namanya, adalah seorang Pendusta. Perilakunya manis, Jiwanya seakan-akan bersih, dan itu membuat terkesima banyak orang. Satu per satu mereka yang terkesima, beralih pandangan kepada Musailamah.

Musailamah seperti "ratu adil" yang menggantikan posisi Sang Mulia Muhammad SAW, dan banyaklah orang yang akhirnya mengikuti kedunguannya hingga jatuh cinta dan terlibat dalam Barisan Musailamah si Nabi Palsu ini.

Khalifah Abu Bakar Ash-shiddiq geram bukan kepalang. Maka diutuslah sahabat berpengalaman, bernama Ar-rajjal bin Unfuwah. Pengalaman jihadnya bersama nabi SAW, dakwahnya ke berbagai negeri muslim dan sikapnya yang penuh hikmah itulah yang membuat Abu Bakar ra mengutusnya untuk mendakwahkan Musailamah Al-Kadzab dan para pengikut setianya.

Hari berganti, bulan pun sudah mulai berlalu. Kecemasan Abu Hurairah ra terhadap dirinya tak terbukti. Nyatanya, ucapan Nabi Muhammad SAW itu justru menimpa Ar-rajjal. Dulu teman, kini lawan. Sang penghafal Quran itu, yang punya jasa besar dalam dakwah itu nyatanya justru jadi musuh yang membela penista agama, pengibul dan pendusta.

Ketika perang berkecamuk antara pasukan Muslimin dan pasukan Musailamah, Ar Rajjal berhasil dibunuh oleh Zaaid bin Khattab radhiallahu anhu (kakak tertua nya Umar bin Khattab radhiallahu anhu).
=====================================
"Sesungguhnya fitnah Ar-Rajjal lebih besar daripada fitnah yang ditimbulkan oleh Musailimah.”

Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari gurunya, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu.(Lihat: Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan-Nihayah, dalam bahasan nabi palsu Musailimah Al-Kadzab).

Kenapa demikian? Karena dengan masuknya Ar-rajjal sebagai barisan Pendusta, maka mulai banyaklah orang yang "percaya" bahwa Musailamah itu benar, musailamah itu baik, dan seabreg pujian yang pada akhirnya membuat orang berpindah kubu dan membela si penista agama.

Petiklah pelajaran ini, maka kita akan tahu betul bahwa kejadian yang lampau itu bisa terulang-ulang, termasuk di masa kini.
.
Oleh: Rizqi Awal
(Penulis Buku, Founder Share Indonesia Peduli)

0 Response to " Ketika Seorang Sahabat, Menjadi Musuh!"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Plis Like Fanpage Kami ya
close