Nasib Guru Menghadapi Murid Zaman Now



Oleh : Dwi R

Jasa guru sangatlah besar. Berkat guru seseorang bisa menjadi cerdas. Ada yang menjadi pejabat, ilmuwan, politikus, agamawan, atlet, dll. Semua itu berkat jasa guru. Namun guru saat ini kerap mendapat perlakuan tak pantas dari para murid dan wali murid.

Sebagaimana berita viral yang menampilkan seorang guru honorer yang ditantang muridnya sendiri. Dalam video yang beredar, kelas berlangsung gaduh. Salah seorang murid berkali-kali mendekat dan menantang guru. Sementara murid yang lain sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. 

Seorang guru IPS kelas IX yang diketahui mengajar di SMP PGRI Wringinanom Gresik itu, tampak diam dan tak berekasi apapun. Dia tetap waras meski mendapat perlakukan tak pantas dari muridnya. Bahkan dia mengaku ikhlas atas perlakuan tersebut. “Saya telah memaafkannya. Jangan diperpanjang lagi masalah ini,” kata Nur Kalim kepada wartawan di Polsek Wringinanom, Minggu (10/2/2019).

===

Guru dalam Sistem Kapitalis 

Di negeri ini, guru tidak memiliki harga sama sekali. Guru hanya dianggap orang yang memberikan materi pelajaran kepada anak didik supaya mereka menjadi pintar. Namun jasa guru yang begitu besar memberikan ilmu kepada para siswa tak lebih baik dari Asisten Rumah Tangga (ART) apa lagi jika disbanding atlet. Jika dilihat dari sisi gaji, guru mendapatkan gaji yang sangat kecil, bahkan untuk guru PAUD atau TK dan SD yang berstatus honor atau pengabdian hanya berkisar antara 50-250 ribu saja. Angka ini jauh di bawah gaji ART. 

Mirisnya lagi, dengan gaji yang sangat kecil guru kerap kali mendapat ketidakadilan. Apabila mengajar dengan sedikit keras (disiplin) siswa banyak yang tidak suka. Tak jarang banyak murid yang berani menentang guru. Mulai dari ban motor yang dikempesi, dihadang di tengah jalan saat pulang, hingga dianiaya oleh wali murid karena tak terima anaknya ditegur saat tidak mematuhi tata tertib. 

Kasus murid yang menentang guru (Nur Kalim), hanya satu kisah dari banyak kisah guru yang diperlakukan tidak adil. 

Begitupun dengan status guru yang dibeda-bedakan antara guru honorer dengan PNS atau sertifikasi. Adanya penggolongan guru, selain mempengaruhi gaji juga mempengaruhi sikap dan perlakuan siswa dan wali murid terhadap guru. Inilah potret buram guru di negeri demokrasi.

===

Pandangan Islam Terhadap Guru

Islam sangat menjunjung tinggi ilmu dan orang yang berilmu. Rasulullah ﷺ pernah meminta tebusan kepada tawanan perang Badar dengan mengajarkan membaca dan menulis kepada kaum muslimin. Dimana setiap seorang tawanan harus mengajarkan kepada 10 orang sebagai tebusan. 

“Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujahadah: 11)

Guru bukan hanya sebuah profesi, namun guru memiliki nilai esensi yang terkandung dalam namanya yaitu sebagai pendidik. Ia menyampaikan dan menyebarluaskan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain sekaligus mendidik siswa supaya menjadi generasi yang cerdas secara akademik dan memiliki akhlakul karimah. Karena tujuan pendidikan dalam Islam tidak hanya sekadar transfer ilmu, melainkan juga untuk membentuk syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam). Sehingga tidak akan ditemukan murid yang berani menantang guru atau lebih parah menganiaya guru. 

Bahkan karena mulianya seorang guru, Khalifah Umar bin Khatab memberikan gaji kepada guru sebesar 15 dinar/bulan (1 dinar = 4,25 gram emas). Jika dikalkulasikan dalam bentuk rupiah, maka gai guru sekitar Rp30.000.000,- per bulan, tanpa memandang status honorer atau PNS. Apalagi bersertifikasi atau tidak. selama ia mengajarkan ilmu yang bermanfaat bagi siswa, maka dia adalah guru yang mendapatkan hak yang sama.
Wajar jika pada masa kejayaan Islam banyak dijumpai generasi yang cerdas dan saleh. Selain kesejahteraan guru yang sangat diperhatikan, kurikulum pendidikan juga berbasis aqidah Islam. Dimana ilmu pengetahuan tidak dipisahkan dari agama. Hal ini jelas bertentangan dengan sistem pendidikan kapitalis sekuler yang menjadikan materi sebagai tujuan utama pendidikan.

Maka, jika ingin mendapatkan pendidikan yang bermutu dan hasil out put siswa yang cerdas dan berakhlakul karimah yaiutu dengan menerapkan sistem pendidikan berbasis aqidah Islamiyah. Dan hal ini hanya akan dapat diterapkan dalam sebuah negara yang menerapkan sistem Islam secara kaffah. Wallahu a’lam bish-shawab.[Muslimah News]

0 Response to "Nasib Guru Menghadapi Murid Zaman Now"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Plis Like Fanpage Kami ya
close